Produksi Emas Freeport Anjlok 86 Persen Usai Longsor di Tambang Grasberg

JAKARTA, Lingkar.news Freeport-McMoRan Inc (FCX) mengungkapkan insiden longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 berdampak signifikan terhadap produksi emas PT Freeport Indonesia pada kuartal IV 2025.

Berdasarkan laporan kinerja FCX yang diterima di Jakarta, Jumat (23/1/2026), produksi emas pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 61 ribu ons. Angka ini turun 86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 428 ribu ons.

Produksi Emas Tahunan Turun Hampir 50 Persen

Secara tahunan, produksi emas PT Freeport Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 937 ribu ons. Jumlah tersebut turun 49,7 persen dibandingkan produksi emas sepanjang 2024 yang mencapai 1,861 juta ons.

Penurunan ini mencerminkan dampak penghentian sementara operasional tambang bawah tanah GBC sejak terjadinya longsor pada September 2025.

Baca juga: Seluruh Korban Longsor Tambang Freeport Akhirnya Berhasil Dievakuasi

Produksi Tembaga Juga Turun Signifikan

Selain emas, produksi tembaga PT Freeport Indonesia turut mengalami penurunan tajam. Pada kuartal IV 2025, produksi tembaga tercatat sebesar 49 juta pon, turun 89 persen dibandingkan kuartal IV 2024 yang mencapai 429 juta pon.

Sementara secara tahunan, produksi tembaga sepanjang 2025 sebesar 1.015 juta pon, turun 43,6 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai 1.800 juta pon.

Dampak Penghentian Operasional Tambang GBC

FCX menjelaskan, dalam kondisi operasi normal, tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia mampu memproduksi sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun.

Produksi sepanjang 2025 yang hanya mencapai sekitar 1 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas menunjukkan besarnya dampak penghentian sementara operasional tambang Grasberg Block Cave sejak September 2025.

Target Pemulihan Produksi Mulai 2026

PT Freeport Indonesia menargetkan aktivitas pertambangan di GBC kembali berproduksi pada kuartal II 2026. Rencana tersebut mencakup dimulainya operasi Blok 2 dan Blok 3, serta pengoperasian kembali Blok 1 pada 2027.

Berdasarkan estimasi perusahaan, sekitar 85 persen dari total produksi dalam kondisi normal ditargetkan dapat pulih pada Semester II 2026.

FCX juga menyebutkan bahwa langkah-langkah prasyarat untuk memulai kembali produksi, seperti pembersihan lumpur di area tambang, perbaikan infrastruktur pendukung, serta pemasangan sistem pengaman, telah berjalan sesuai jadwal.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki