Pemerintah RI akan Bentuk BUMN Tekstil Baru, Siapkan Dana Rp101 Triliun

JAKARTA, Lingkar.news Pemerintah RI akan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru khusus sektor tekstil, sebagai langkah strategis memperkuat industri nasional di tengah risiko kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan rencana tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/1/2026).

“Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil. Tidak menghidupkan perusahaan tekstil lama,” ujar Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Arahan Presiden Perkuat Industri Tekstil

Airlangga menjelaskan, industri tekstil dan garmen menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS. Oleh karena itu, pemerintah menilai perlu membangun entitas baru yang lebih modern dan kompetitif.

Dari hasil studi yang telah rampung, pemerintah akan melanjutkan rencana ini dengan penyusunan peta jalan (roadmap) penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) secara menyeluruh.

Pendanaan Rp101 Triliun dari Danantara

Untuk mendukung pembentukan BUMN tekstil baru, pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS (sekitar Rp101,14 triliun) melalui BPI Danantara.

Dana tersebut diarahkan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, hingga peningkatan ekspor di sektor tekstil.

“Sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun, serta memperdalam value chain industri tekstil,” jelas Airlangga.

Perbaikan Rantai Nilai Industri Tekstil

Airlangga mengakui saat ini masih terdapat kelemahan pada rantai nilai (value chain) tekstil, terutama pada produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing.

Dengan pembentukan BUMN tekstil baru, pemerintah berharap dapat mendorong modernisasi industri dan memperkuat pendalaman struktur industri tekstil nasional.

Pemerintah Juga Dorong Sektor Semikonduktor

Selain tekstil, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada sektor elektronik, khususnya semikonduktor, yang dinilai masih menjadi celah besar dalam industri nasional.

Investasi awal di sektor ini diperkirakan mencapai 120–250 juta dolar AS, dan dapat ditingkatkan hingga 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16,8 triliun).

“Presiden mengarahkan agar sektor semikonduktor juga dikembangkan. Pemerintah menyiapkan dana dan menjadikannya prioritas agar kita lebih defensif menghadapi perang tarif,” tutur Airlangga.

Jurnalis: Ant
Editor: Basuki