SORONG, Lingkar.news – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sorong, Papua Barat Daya, menyebut penyakit malaria masih menempati urutan atas dalam sepuluh besar penyakit yang terdeteksi di puskesmas atau layanan kesehatan lainnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Sorong, Jemima Elisabeth Lobat, mengatakan penyakit malaria juga menjadi masalah kesehatan yang menyebabkan kematian.
Menurutnya butuh langkah-langkah tepat untuk bisa mengeliminasi penyakit malaria di Sorong.
“Eliminasi malaria di Kota Sorong ditargetkan dapat dicapai pada tahun 2029, untuk itu upaya-upaya percepatan diperlukan agar dapat terwujud,” jelasnya, Selasa, 7 Oktober 2025.
Jemima menyebutkan perkembangan kasus malaria dari tahun 2021 hingga 2025 menunjukkan tren yang fluktuatif.
Pada 2021 tercatat sebanyak 766 kasus positif malaria. Angka ini kemudian mengalami lonjakan yang sangat signifikan pada tahun 2022 yaitu mencapai 1.749 kasus, atau meningkat sekitar 128,3 persen.
Kenaikan kasus berlanjut secara tajam pada tahun 2023, di mana jumlah kasus positif melonjak menjadi 3.831 kasus.
“Meskipun demikian, pada tahun 2024, laju kenaikan mulai melambat. Jumlah kasus malaria tercatat sebanyak 3.925 kasus, selanjutnya pada 2025 terjadi penurunan yang cukup signifikan. Jumlah kasus positif malaria menurun menjadi 2.818 kasus, atau turun sekitar 28,2 persen dibandingkan tahun 2024,” jelasnya.
Salah satu upaya percepatan eliminasi malaria yakni dengan distribusi kelambu berinsektisida secara massal ke seluruh puskesmas.
Menurut dia, kelambu berinsektisida secara efektif mengurangi jumlah nyamuk yang masuk ke dalam rumah dan menggigit manusia, terutama saat tidur. Dengan mengurangi gigitan nyamuk, secara signifikan dapat menurunkan risiko penularan malaria.
“Jika cakupan penggunaan kelambu tinggi, hal ini dapat mengurangi populasi nyamuk secara keseluruhan dan memperlambat penularan di tingkat komunitas,” katanya.
Pemkot Sorong mendistribusikan 15 ribu kelambu berinsektisida kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan dan sekaligus mencapai target eliminasi malaria.
Wali Kota Sorong Septinus Lobat menjelaskan bahwa Kota Sorong merupakan salah satu daerah di Papua Barat Daya yang terdampak endemis tinggi malaria, sehingga butuh kebijakan strategis untuk menanganinya.
“Dinas Kesehatan harus meningkatkan layanan dengan berbagai upaya, dan pembagian kelambu ini adalah langkah konkret dari pemerintah,” jelasnya saat meluncurkan pembagian kelambu di Kota Sorong.
Menurut dia, untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih optimal maka harus diawali dengan perencanaan yang matang, kemudian mengimplementasikan program perencanaan itu sesuai dengan kebutuhan.
“Saya memberikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan karena telah melaksanakan upaya pencegahan,” ucapnya.
Jurnalis: Anta
Editor: Ulfa Puspa
