MANOKWARI, Lingkar.news – Ketua Komite III DPD Republik Indonesia (RI) Filep Wamafma menilai pemerintah perlu melakukan kajian mendalam sebelum merealisasikan rencana perluasan perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua.
Menurut Filep, kajian yang dilakukan harus bersifat komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari lingkungan, sosial, budaya, hingga keberlanjutan kehidupan masyarakat adat di Papua.
“Masyarakat adat Papua memandang hutan sebagai ibu, tempat berlindung, dan tempat memberikan kehidupan,” kata Filep saat ditemui awak media di Manokwari, Papua Barat, Senin, 22 Desember 2025.
Ia menilai Tanah Papua memiliki karakteristik ekologis yang sensitif sehingga setiap kebijakan investasi berbasis sumber daya alam tidak boleh mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Pemerintah, lanjutnya, juga perlu belajar dari dampak investasi sektor kehutanan di daerah lain yang berujung pada bencana alam.
Filep menyebut pemerintah sudah semestinya memperhatikan dampak dari investasi pada sektor kehutanan agar tidak menimbulkan bencana alam seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Mungkin Pak Presiden Prabowo mendapat referensi kurang lengkap dari tim ahli soal rencana untuk menambah kebun sawit di Papua,” ucapnya.
Ia juga menyinggung program strategis nasional pembangunan kawasan sentra produksi pangan (food estate) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang hingga kini masih memicu konflik sosial dengan masyarakat adat.
Menurutnya, permasalahan tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat dengan melibatkan masyarakat lokal sejak tahap perencanaan, pengambilan keputusan, hingga pelaksanaan program.
“Pemahaman adat itu berbeda dengan konteks pemerintah yang selalu memandang lahan tidur sebagai potensi investasi,” ujarnya.
Selain itu, Filep menyoroti keberadaan sejumlah perusahaan kelapa sawit yang telah beroperasi di Tanah Papua tanpa diimbangi pembangunan industri pengolahan hasil.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan ketimpangan manfaat pembangunan karena aktivitas usaha masih berorientasi pada sektor hulu.
“Sudah banyak perkebunan sawit yang beroperasi, tapi Papua hanya sebagai kebun. Hasilnya dikirim keluar lalu diolah di luar, akhirnya Papua tetap jadi konsumtif,” ucap Filep.
Jurnalis: Ant
Editor: Rosyid
